Jumat, 07 Desember 2018

TT E L1 Metode Pendidikan Special (Metode Kisah) Q.S AL-A'raf Ayat 176

 
Metode Pendidikan Special 
“Metode Kisah”
(QS. Al-A’raf 176)
Muthoharoh
NIM. (2117357)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2018



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
              Semakin berkembangnya dunia dari tahun-ketahun mengakibatkan banyak perubahan dalam diri dunia Islam. Baik dari segi agama, pendidikan, politik dan seterusnya. Terutama dalam bidang pendidikan, akibat adanya sikap serba boleh dan pemenjaan dari orang tua, banyak anak-anak terjerumus pada pergaulan yang mengabaikan syari'at. Banyak kaum wanita melupakan fitrohnya sebagai seorang ibu yang berkewajiban mendidik putra-putrinya. Sehingga mengakibatkan dunia anak sia-sia. Pemberian andel yang cukup banyak dalam kesia-siaan trsebut adalah metode pendidikan barat yang tampaknya telah menjadi kiblat pendidikan kita. Sebenarnya islam mempunyai metode pendidikan yang sempurna kepada umat manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan sedikit membahas tentang metode-metode pendidikan dalam islam.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakikat Metode Kisah
a.       Pengertian Kisah
Kisah (al-qishshah) bermakna cerita (al-hadits), berita (khabar), bahan pembicaraan (al-uhdutsah), tingkah (sya’n), dan keadaan (al-hal). Kisah Qur’ani atau kisah dalam Al-Qur’an maksudnya adalah berita-berita Al-qur’an ihwal orang-orang terdahulu, baik umat-umat maupun para Nabi yang telah lampau. Demikian juga, berita mengenai peristiwa-peristiwa nyata dizaman dulu, yang memuat pelajaran dan dapat diambil pelajaran bagi generasi yang datang setelahnya.[1]
b.      Metode Kisah
Metode Kisah mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya suatu hal baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja. Islam sebagai agama yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits menepis image adanya kisah bohong, kerena Islam selalu bersumber dari dua sumber yang dipercaya, sehingga cerita yang disodorkan terjamin kesahihan dan keabsahannya.[2]

Jenis pertama misalnya cerita tentang nabi-nabi dan orang-orang yang mengingkarinya serta segala hal yang mereka alami akibat pengingkaran itu. Cerita tersebut menyebutkan nama-nama pelaku, tempat-tempat kejadian, peristiwa-peristiwa secara jelas, seperti kisah Musa dan Fir’aun, Isa dan Bani Israil, Salih dan Tsamud, Hud dan ‘Ad, Nuh dan kaumnya, dsb. Jenis kedua misalnya kisah anak Adam dalam Surat Al Maidah 27-30. Sedangkan jenis ketiga misalnya Surat Al Kahfi ayat 32-43. Secara garis besar orang atau tokoh yang dikisahkan dalam al-Quran adalah orang yang sholeh ataupun orang yang dzalim. Orang yang shaleh misalnya Lukman al- Hakim, sedangkan yang dzalim misalnya Fir’aun. Kisah dengan menampilkan tokoh yang shaleh bertujuan agar para pembaca meneladani tokoh tersebut dalam keshalehannya. Dan kisah yang menampilkan tokoh yang dzalim bertujuan pula agar para pembaca menjauhi sikap dan perbuatan tokoh tersebut.[3]
B.     Dalil Metode Kisah dalam Al-Qur’an
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ۝
Artinya: “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”
a.       Tafsir Al-Maraghi
Setelah Allah menceritakan tentang diambilnya janji dan sumpah terhadap Bani Adam  seluruhnya, dan bahwa mereka diambil kesaksiannya atas diri mereka sendiri, bahwa Allah adalah Tuhan mereka, mereka tidak bisa beralasan lagi kelak pada hari kiamat atas kemusyikan mereka terhadap Allah, baik dengan alasan tidak mengerti ataupun karena ikut-ikutan.
Dan bacakanlah kepada orang-orang Yahudi, berita penting yang mengagumkan itu, yaitu berita tentang orang yang telah kami beri pengetahuan mengenai alasan-alasan tauhid, dan kami pahamkan tentang dalil-dalinya, sehingga dia menjadi alim tentang alasan-alasan dan dalil-dalil tersebut, tetapi kemudian dia melepaskan diri dari padanya dan meningalkannya dibelakang punggung mereka, tak sudi meliriknya kembali agar memperoleh petunjuk darinya.
Pernyataan dengan istilah “insilakh” memuat isyarat bahwa pengetahuan mereka mengenai tauhid itu hanyalah bersifat lahiriyah saja, tidak sampai masuk dalam  hati.
Dan setelah dia membuat ayat-ayat Allah dengan kesengajaan dirinya, maka ia dikejar oleh setan sampai tersusul dan dapat digoda olehnya. Karena sudah tidak tersisa lagi padanya cahaya dala hati maupun rambu-rambu petunjuk, yang dapat menghalangi dia dari menerima godaan setan dan mengikuti bisikannya, sehingga jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat dan membuat kerusakan.
Kesimpulannya, bahwa orang yang dimisalkan dalam ayat ini sebenarnya telah diberi petunjuk. Namun, dia buang petunjuk itu dan lebih suka kepada kesesatan dan lebih cenderung kepada dunia, sehingga ia menjadi bulan-bulanan setan, dan akhirnya dia mengalami kebinasaan dan kehinaan, dan rugilah ia dunia dan ahirat.
Dan ayat ini merupakan pelajaran dan nasihat bagi kaum Mu’minin, disamping peringatan bagi mereka agar jangan sampai memperturutkan hawa napsu mereka, sehingga takkan tergelincir ke dalam jurang yang telah menjerumuskannorang yang dimisalkan pada ayat tersebut diatas, karena kecenderungannya kepada dunia dan kecondongannya kepada keinginan-keinginan dan kelezatan-kelezatan duniawi.
Kalau Kami mengehendaki agar orang itu kami angkat dengan ayat-ayat Kami tersebut dan dengan mengamalkannya kepada derajat-derajat kesempurnaan dan pengetahuan, bisa saja itu kami lakukan. Yaitu, kami buat petunjuk itu menjadi wataknya benar-benar, dan Kami membuat dia mesti mengamalkannya, baik dengan suka hati atau terpaksa. Karena bagi kami, itupun tidak sukar. Hanya saja bertentangan dengan Sunnah kami.
Akan tetapi orang itu cenderung dan lebih condong kepada dunia, dan seluruh perhatian dalam hidupnya dia arahkan untuk menikmati kelezatan-kelezatan jasmani, dan tiak ia arahkan kepada kehidupan ruhani sama sekali, namun tak puas-puas juga. Akhirnya, hilanglah perhatiannya sama sekali untuk memikirkan ayat-ayat kami yan telah Kami berikan kepadanya.
b.      Tafsir Al-Ibriz
Bal’am Ibn Ba’ura itu  pendeta besar, banyak ilmunya, do’anya selalu diijabah, sebab punya pegangan “al ilmul adzim”. Oleh orang-orang yang benci Nabi Musa. Bal’am diminta supaya mendoakan hal yang jelek kepada Nabi Musa dan Sahabatnya, awalnya Bal’am tidak mau dan tidak berani, tetapi karena banyaknya hadiah-hadiah Bal’am jadi mau melawan dan mendoakan sesuatu yang jelek kepada Nabi Musa dan Sahabatnya. Namun, doanya malah kembali pada dirinya sendiri, lidahnya keluar menjulur panjang sampai ke dada.
Apabaila Allah mau, pasti berkuasa meninggikan derajatnya Bal’am tadi, sebab ayat-ayat yang diberikan itu dilakukan (dipatuhi). Tetapi Bal’am mempunyai condong kepada dunia dan menuruti hawa napsu, maka oleh Allah ta’ala Bal’am direndahkan pangkatnya, sifatnya menjadi seperti sifatnya anjing, melet2 dan aibnya itu diketahui banyak orang, dia tetap melet2. Dan seperti itu adalah sifatnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayatnya Allah ta’ala. Ceritakan Muhammad, cerita-cerita tadi kepda orang-orang Yahudi supaya pada berpikir dan kemudian beriman.[5]
c.       Tafsir Al-Azhar
Allah tetap bersedia mengangkat manusia naik, asal dia sendiri tidak ingin hendak lekat saja di bumi karena diilkat kakinya oleh hawanafsunya.
Alangkah hinanya perumpamaan yag diambil Allah daripada rang yang menyilih baju ayat itu dan menukarnya dengan kufur. Laksana anjing selalu kehausan, selalu lidahnya  terulur karena tidak puas-puas oleh tamaknya. Anjing mengulukan lidah terus karena merasa belum kenyang, karena hawanafsunya belum terpenuhi.
Menurut penafsiran Ibnu Jarir at-Thabari, maka ceritakanlah olehmu hai rasul, cerita-cerita yang telah Aku kisahkan kepada engkau ini, tentang berita yang telah datang kepada mereka ayat Kami itu, dan berita tentang ummat-ummat yang telah Aku khabarkan kepada engkau dalam surat ini, dan berita lain yang menyerupai itu, sampaikan juga betapa akibat siksaan kami terhadap mereka, sebab mereka telah mendustakan rasul-rasul yang kami utus. Dan hal  yang seperti itu bisa saja sebelum engkau dari Yahudi Bani Israil. Supaya mereka ikirkan hal ini baik-baik, supaya mereka mengambil i’tibar , lalu mereka kembali kepada jalan yang benar, mereka taat kepada Kami.


C.      Aspek Tarbawi
1. Kisah dalam Al Qur’an menunjukkan betapa tingginya i’jaz Al Qur’an yang mampu menampilkan sesuatu dengan berbagai pola untuk menarik respon pendengarnya.
2. Allah memerintahkan agar menceritakan kisah dalam QS. Al-A’rof ayat 176.
3. Dalam dunia pendidikan, kisah merupakan salah satu media untuk menembus relung jiwa manusia dalam menyampaikan nilai tanpa menimbulkan rasa jenuh, kesal dan bosan sesuai dengan fitrahnya.
4. Dalam proses pembelajaran tersebut, peserta dididik disodori dengan berbagai sejarah dan cerita, dengan harapan dari sejarah dan cerita tersebut, mereka mampu membuat analog yang logis untuk kebaikan masa depannya.
5. Dalam perspektif teori pendidikan, cerita atu kisah merupakan bentuk menyampaika pesan penting terhadap anak didik tanpa harus menyertakan instruksi yang bermuatan keseriusan. Bahkan kisah dapat membangkitkan imajinasi anak didik.[7]

BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Metode Kisah mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya suatu hal baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja. Islam sebagai agama yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits menepis image adanya kisah bohong, kerena Islam selalu bersumber dari dua sumber yang dipercaya, sehingga cerita yang disodorkan terjamin kesahihan dan keabsahannya. Dalam Al-Qur’n terdpat dalil metode kish dalam surat Al-A’raf ayat 176. Salah satu dari aspek tarbawi adanya metode kisah adalah Dalam proses pembelajaran tersebut, peserta dididik disodori dengan berbagai sejarah dan cerita, dengan harapan dari sejarah dan cerita tersebut, mereka mampu membuat analog yang logis untuk kebaikan masa depannya.
Dalam perspektif teori pendidikan, cerita atu kisah merupakan bentuk menyampaika pesan penting terhadap anak didik tanpa harus menyertakan instruksi yang bermuatan keseriusan. Bahkan kisah dapat membangkitkan imajinasi anak didik.

TT E K3 Metode Pendidikan Universal (Metode Persuasif) Q.S Al-Imran Ayat 133

 
METODE PENDIDIKAN UNIVERSAL
"METODE PERSUASIF"
(QS. Ali Imran: ayat 133)

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah Tafsir Tarbawi tentang Metode Persuasif. dalam Qur’an Surah Ali Imran ayat 133 ini dengan baik, meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku Dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi yang telah memberikan tugas ini kepada saya. Saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita tentang Metode Persuasif. dalam Qur’an Surah Ali Imran ayat 133. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
 Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan .
Pekalongan, 13 November 2018
Penulis






BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau mempengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Istilah persuasive bersumber pada perkataan latin “persuasio” memiliki kata kerja “persuadere” yang berarti membujuk, mengajak atau merayu (3M).
Dalam islam sendiri persuasif lebih dikenal dengan sebutan dakwah, yakni suatu aktivitas yang mendorong manusia memeluk agama islam melalui cara yang bijaksana dengan materi ajaran islam agar mereka mendapatkan kesejahteraan kini (dunia) dan kebahagiaan umat nanti (akhirat). Islam tidak membenarkan pemeluk-pemeluknya melakukan pemaksaan terhadap umat manusia, agar mereka mau memeluk agama islam. Setidak-tidaknya ada dua alasan, mengapa islam tidak membenarkan alasan tersebut; pertama, Islam adalah agama yang benar dan ajaran-ajaran islam sama sekali benar dan dapat diuji kebenarannya secara ilmah, kedua,Masuknya iman ke dalam kalbu setiap manusia merupakan hidayah Allah SWT, tidak ada seorang pun yang mampu dan berhak memberi hidayah ke dalam kalbu manusia kecuali Allah SWT.[1]
Islam menganut suatu paham bahwa manusia itu pada dasarnya adalah bersih (fitrah) seperti kertas putih, namun akan berubah menjadi buruk apabila dipengaruhi oleh lingkungannya yang buruk pula, dengan demikian manusia itu mempunyai potensi yang sama besarnya untuk berbuat kotor atau berbuat bersih tergantung dominasi rangsangan yang diterimanya.[2]
.

BAB II
PEMBAHASAN
Teori
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Majmu’ Fatawa bahwa takwa bukanlah hanya meninggalkan maksiat (kejelekan) namun takwa -sebagaimana ditafsirkan oleh ulama-ulama dahulu dan belakangan adalah melakukan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang.[3]
Tholaq bin Habib rahimahullah mengatakan,
أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ وَ أَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عَذَابَ اللهِTakwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah, di atas cahaya dari Allah (yaitu di atas ilmu) dengan harapan untuk mendapatkan pahala dari Allah dan engkau menjauhi maksiat atas cahaya dari Allah (yaitu di atas ilmu) karena takut akan ’adzab Allah.
Di antara bentuk ketakwaan adalah menjaga shalat lima waktu di mana Allah memerintahkan hal ini pada kita,
Dan Allah melarang meninggalkan perkara agung ini karena inilah amalan yang pertama kali akan dihisab (diperhitungkan) di hari kiamat kelak di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ”Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba adalah shalat. Yang perkara pertama kali yang akan diputuskan adalah urusan darah.”
Oleh karena itu, janganlah menganggap remeh shalat ini dan janganlah meninggalkannya karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya di antara pembeda antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”
Yaitu yang menghalangi seseorang dari kekafiran adalah tidak meninggalkan shalat (yaitu melakukan shalat).Apabila seseorang meninggalkan shalat tidak lagi tersisa penghalang antara keislaman dan kesyirikan bahkan dia telah jatuh dalam dosa kekafiran.
Dengan demikian ”Kaum muslimin sepakat bahwa meninggalkan shalat yang wajib dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”

Tafsir Q.S Al-Imron ayat 133

Artinya : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dankepada surga  yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Tafsir Al-Azhar
“ Berlomba-lombalah kamu sekalian kepada ampunan Tuhan kamu”, (pangkal ayat 133). Tidak pandang kaya, tidak pandang miskin. Tidak pandang kedudukan tinggi ataupun derajat rendah, semuanya insaf akan kekurangan diri. Perintah Tuhan belum terlaksana semuanya, lalu semuanya berlomba memohon ampun, dengan mulut dan dengan perbuatan, semuanya mencari rezeki yang halal.“ Dan syurga yang (luasnya) seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (ujung ayat 133).[4]
Berlomba-lomba memohon ampunan Allah, kaya dan miskin.Berlomba pula mengejar syurga dengan berbuat amal, tolong-menolong bantu-membantu sesama manusia dan taat menuruti perintah Allah dan Rasul.Maka bahagialah hidup didunia, diliputi rahmat dan tersedialah kelak syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, untuk orang yang bertakwa.Lantaran itu pelarangan riba dan penganjuran perlombaan berbuat baik, berderma, bersedekah, berwakaf dan bernazar adalah mengandung makna yang lebih besar dan jauh, yaitu keselamatan pergaulan hidup didunia yang didasarkan kepada takwa, bagi keselamatan terus ke akhirat.
Tafsir Jalalain
وَسَارِعُو(Dan bersegeralah kamu) dengan atau tanpa wau - إلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْض (kepada keampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi) artinya seluas langit dan bumi bila keduanya disambung, sedangkan ard artinya ialah luas – لِلْمُتَّقِينَأُعِدَّتْ (yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa) kepada Allah dengan mengerjakan taat dan meninggalkan maksiat.[5]
Tafsir Al-Mishbah
Ayat ini, menganjurkan peningkatan upaya melukiskan upaya itu bagaikan satu perlombaan dan kompetisi yang memang merupakan salah satu cara peningkatan kualitas. Karena itu bersegeralah kamu bagikan ketergesaan seorang yang ingin mendahului yang lain menuju ampunandari Tuhanmu dengan menyadari kesalah dan berlombalah mencapai, yaitu surge yang sangat agung  yang lebarnya, yakni luasnya selebar seluas langit dan bumi yang disediakan untuk al-muttaqin, yakni orang-orang yang telah mantap ketakwaannya, yang taat melaksanakan perintah Allah   dan menjauhi larangan-Nya.[6]
Yang dimaksud dengan lebar surga disini adalah luasnya, dan luas yang dimaksud adalah perumpamaan,.Ia tidak harus dipahami dalam arti harfiahnya. Dalam benak kita – manusia – tidak ada sesuatu yang dapat   menggambarkan keluasan, melebihi luasnya langit dan bumi, maka  untuk menggambarkan betapa luasnya surga, Allah memilih kata-kata “selebar langit dan bumi.” Di sisi lain, sedemikian luasnya sehingga ketika mendengar bahwa lebarnya saja sudah demikian, maka bagaimana pula panjangnya?
Perumpamaan yang diberikan oleh Al Qur’an ini, mengundang kaum muslimin agar tidak mempersempit surga dan merasa atau menyarankan bahwa hanya diri atau kelompoknya saja yang akan memasukinya surga sedemikian luas, sehingga siapa pun yang berserah diri kepada-Nya, insya Allah akan mendapat tempat yang luas disana.
Tafsir Al-Maraghi
                “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipatganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah kamu dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.[7]
Aplikasi kehidupan
Pada ayat ini telah menganjurkan Muslimin kepada dua perkara.  Pertama, mengikuti secara mutlak segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Tunduk pada perintah keduanya merupakan  syarat rahmat dan pertolongan ilahi.
Anjuran kedua, berlomba melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dan menyampaikan kebaikan kepada orang lain yang menyebakan terampuninya dosa dan masuk surga ilahi.[8]
 Namun al-Quran menyeru Mukminin agar bersegera memperoleh rahmat dan ampunan ilahi yang menyiapkan lahan bagi masuk ke surga di akhirat. Tapi  syarat masuk  ke surga  adalah takwa.
Aspek Tarbawi
  1. Perintah taat kepada Allah dan Rasul serta sifat-sifat orang-orang yang bertakwa.
  2. Perintah untuk segera memohon ampunan kepada Allah.
  3. Diperuntukkan-Nya surga bagi orang yang bertaqwa dan menafkahkan harta dijalan Allah.
  4. Mereka yang beruntung adalah mereka yang segera mohon ampun ketika berbuat dosa.
  5. Surga adalah balasan bagi orang yang bertakwa.
  6. Al-Qur’an penerang bagi seluruh manusia.
  BAB III
PENUTUP
Simpulan
Persuasif menurut bahasa bersumber pada perkataan latin “persuasio”, memiliki kata kerja “persuadere” yang berarti membujuk, mengajak atau merayu (3M). Jadi yang dimaksud persuasive disini yaitu mengajak manusia untuk selalu bertakwa kepada Allah SWT, dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian Manusia berlomba-lomba memohon ampunan Allah, kaya dan miskin. Berlomba pula mengejar syurga dengan berbuat amal, tolong-menolong, bantu-membantu sesama manusia dan taat menuruti perintah Allah dan Rasul. Maka bahagialah hidup didunia, diliputi rahmat dan tersedialah kelak syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, untuk orang yang bertakwa. Lantaran itu pelarangan riba dan penganjuran perlombaan berbuat baik, berderma, bersedekah, berwakaf dan bernazar adalah mengandung makna yang lebih besar dan jauh, yaitu keselamatan pergaulan hidup didunia yang didasarkan kepada takwa, bagi keselamatan terus ke akhirat
Semoga kita selalu dibekali oleh Allah dengan sifat takwa. Allahumma inna nasalukal huda wat tuqo wal afaf wal ghina. Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya

TT E K2 Metode Pendidikan Universal (Metode Dakwah) Q.S An-Nahl Ayat 125

 
 
METODE PENDIDIKAN UNIVERSAL
Metode Dakwah” 
QS. An-Nahl ayat 125
 
Wildan Maulana
NIM. (2117349) 
Kelas E
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam adalah agama dakwah. Artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Dakwah merupakan aktivitas untuk mengajak manusia agar berbuat kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan mungkar agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Tugas dakwah adalah tugas umat secara keseluruhan bukan hanya tugas  kelompok tertentu umat Islam.Dalam tugas penyampaian dakwah Islamiyyah, seorang da’i sebagai subjek dakwah memerlukan seperangkat pengetahuan dan kecakapan dalam bidang metode. Dengan mengetahui metode dakwah, penyampaian dakwah dapat mengena sasaran, dan dakwah dapat diterima oleh mad’u (objek) dengan mudah karena penggunaan metode yang tepat sasaran. Seorang pendidik dalam menyampaikan materi perlu mempersiapkan metode karena sebaik apapun materinya jika tanpa adanya metode dalam menyampaikannya tidak mengena sasaran atau tidak mencapai tujuan yaitu membuat peserta didik menjadi paham
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakikat Metode Dakwah
Secara etimologi, metode berasal dari bahasa Yunani “metodos” yang artinya cara atau jalan. Metode berarti cara yang telah diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan arti dakwah menurut beberapa pandangan beberapa ilmuwan diantaranya sebagai berikut:
1.      Pendapat Bakhial Khauli, dakwah adalah satu proses menghidupkan peraturan-peraturan Islam demgan maksud memindahkan umat dari satu keadaan kepada keadaan lain.
2.       Pendapat Syaikh Ali Mahfudz, dakwah adalah mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pendapat ini juga selaras dengan pendapat Al-Ghazali bahwa amar ma’ruf nahi mungkar adalah inti gerakan dakwah dan penggerak dalam dinamika masyarakat Islam.
Jadi, metode dakwah adalah jalan atau cara untuk mencapai tujuan dakwah yang dilaksanakan secara efektif dan efisien.[1]
B.     Dalil metode dakwah qur’ani
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  
Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
1.      Tafsir Al-Lubab
Nabi Muhammad Saw yang diperintahkan untuk mengikuti Nabi Ibrahim As., sebagaimana terbaca pada ayat yang lalu, kini diperintahkan lagi untuk mengajak siapapun agar mengikuti pula prinsip-prinsip ajaran Nabi Ibrahim As itu. QS. An-Nahl Ayat 125 menyatakan: Serulah semua yang engkau sanggup seru agar menuju ke jalan yang ditunjukkan Tuhan, yakni ajaran Islam dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah siapapun yang menolak atau meragukan ajaran Islam dengan cara yang tebaik. Lebih jauh ayat ini mengingatkan agar tidak menghiraukan cemoohan atau tuduhan-tuduhan tidak berdasar kaum musyrik, dan hendaknya menyerahkan segala urusan kepada Allah karena Allah yang selalu membimbing dan berbuat baik. Dialah yang lebih mengetahui dari siapapun yang bejat jiwanya sehingga tersesat dari jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui orang-orang yang sehat jiwanya sehingga mendapat petunjuk.[2]
2.      Tafsir Al-azhar
Ayat ini adalah mengandung ajakan kepada Rasul saw. tentang  cara melancarkan da’wah, atau seruan terhadap manusia agar mereka berjalan di atas jalan Allah (Sabilillah). Sabilillah, atau Shirathal Mustaqim, atau Ad-Dinul Haqqu, agama yang benar. Nabi saw. memegang tampuk kepemimpinan dalam melakukan dakwah hendaklah memakai tiga macam cara atua tiga tingkat cara. Pertama, Hikmah (kebijaksanaan), yaitu dengan secara bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang dan hati yang bersih menarik perhatian orang kepada agama, atau kepada kepercayaan terhadap kepercayaan Tuhan. Contoh-contoh kebijaksanaan itu selalu  pula ditunjukkan Tuhan.
Yang kedua ialah Al-Mau’izhatul Hasanah, yang kita artikan pengajaran yang baik, atau pesan-pesan yang baik, yang disampakan sebagai nasihat. Sebagai pendidikan dan tuntunan sejak kecil. Sebab itu termasuklah kedalam bidang “Al-Mau’izhatul Hasanah”, pendidikan ayah-bunda dalam rumah-tangga kepada anak-anaknya, yang menunjukkan contoh beragama di hadapan anak-anaknya, sehingga menjadi kehidupan mereka pula. Termasuk juga pendidikan dan pengajaran dalam perguruan-perguruan.
Yang ketiga ialah “Jadilhum billati hiya ahsan”, bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Kalau terpaksa timbul perbantahan atau pertukaran fikiran, yang di zaman kita ini sudah tidak dapat dielakkan lagi, pilihlah jalan yang sebaik-baiknya.
3.      Tafsir Ibnu Katsir
Allah berfirman menyuruh Rasul-Nya berseru kepada manusia mengajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat serta anjuran yan baik. Dan jika orang-orang itu mengajak berdebat, maka bantahlah mereka dengan cara yang baik. Allah lebih mengetahui siapa yang durhaka tersesat dari jalanNya dan siapa yang bahagia berada di dalam jalan yang lurus yang ditunjukkan oleh Alah. Maka janganlah menjadi kecil hatimu, hai Muhammad, bila ada orang-orang yang tidak mau mengikutimu dan tetap berada dalam jalan yang sesat. Tugasmu hanyalah menyampaikan apa yang diwahyukan oleh Allah kepadamu dan memberi peringatan kepada mereka, sedang Allah lah yang akan menentukan dan memberi petunjuk, serta Dia-lah yang akan memminta pertanggungjawaban hamba-hambaNya kelak di hari kiamat.
4.      Tafsir Al Maraghi
Dalam ayat-ayat terdahulu, Allah ta’ala menjelaskan kedustaan paham orang-orang musyrik dalam hal-hal berikut : menetapkan sekutu-sekutu dan dan tandingan-tandingan bagi Allah, mencela kenabian para nabi dan rasul seperti dengan mengatakan, “ sekiranya Allah hendak mengutus seorang rasul, tentu dia mengutus para malaikat,” menghalalkan perkara-perkara yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan perkara-perkara yang telah dihalalkannya. kemudian dengan tegas dan tandas dia menolak keyakinan-keyakinan tersebut.
Akhirnya Allah menutup surat dengan hal-hal berikut. yaitu : menceritakan ibrahim, pemimpin ahli tauhid, yang orang-orang musyrik membaggakan diri dengannya dan menetapkan kewajiban menteladaninya, agar menjadi pendorong bagi mereka untuk bertauhid dan meninggalkan kemusyrikkan: menyuruh nabi-Nya Muhammad saw. untuk mengikuti jejaknya : menggariskan landasan dakwahnya, yaitu hikmah, pemberian pelajarn yang baik dan bantahan dengan cara yang baik, menyuruh beliau untuk bersikap lemah lembut dalam menjatuhkan jika beliau menjatuhkannya , atau tidak menjatuhkannya dan itu lebih utama bagi orang-orang yang bersabar, menyuruh beliau untuk menjadikan kesabaran sebagai penuntunnya didalam mengerjakan seluruh pekerjaannya, dan melarang beliau untuk bersedih hati karena kaumnya kafir, tidak menerima seruannya dan melakukan tipu daya terhadapnya. sesungguhnya Allah pasti menolong beliau atas mereka dan akan menghentikan penganiayaan mereka terhadapnya. sunnah Allah telah berjalan, bahwa kesudahan yang baik hanyalah bagi orang-orang yang bertaqwa, dan kehinaan akan diterima oleh orang-orang yang bermaksiat lagi berkhianat.[3]
Dari tafsir tersebut, jelaslah bahwa prinsip-prinsip dakwah Islam tidaklah mewujudkan kekakuan, akan tetapi menunjukkan fleksibelitas yang tinggi. Ajakan dakwah tidak mengharuskan cepatnya keberhasilan dengan satu metode saja, melainkan dapat menggunankan bermacam-macam cara yang sesuai dengan kondisi dan situasi mad’u sebagai objek dakwah. Dalam hal ini kemampuan masing-masing da’i sebagai subjek dakwah dalam menentukan penggunaan metode dakwah amat berpengaruh bagi keberhasilan suatu aktivitas dakwah.[4]
C.    Implementasi metode dakwah dalam pendidikan
Dalam surat An-Nahl (lebah) ayat 125 ini, terdapat tiga prinsip dalam implementasi metode pembelajaran yaitu :
1.      Al-Hikmah
Dalam bahasa Arab Al-hikmah artinya ilmu, keadilan, falsafah, kebijaksanaan, dan uraian yang benar. Al-hikmah berarti mengajak kepada jalan Allah dengan cara keadilan dan kebijaksanaan, selalu mempertimbangkan berbagai faktor dalam proses belajar mengajar, baik faktor subjek, obyek, sarana, media dan lingkungan pengajaran. Pertimbangan pemilihan metode dengan memperhatikan audiens atau peserta didik diperlukan kearifan agar tujuan pembelajaran tercapai dengan maksimal.
2.      Mauidzah Hasanah
Ibnu Katsir menafsiri Al-mauidzah hasanah sebagai pemberian peringatan kepada manusia, mencegah dan menjauhi larangan sehingga dengan proses ini mereka akan mengingat kepada Allah. Jadi, dalam pndididakn kita harus memberi nasehat-nasehat dan wejangan kebaukan pada peserta didik.
3.      Mujadalah
Mujadalah dalam konteks dakwah dan pendidikan diartikan dengan dialog, diskusi,  atau berbantah-bantahan.  Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata bahwa mujadalah ini adalah cara penyampaian melalui diskusi dengan wajah yang baik kalimat lemah lembut dalam berbicara
Termasuk dalam metode mujadalah yaitu metode diskusi. Diskusi memberikan peluang sebesar-besarnya kepada para siswa untuk mengeksplor pengetahuan yang dimilikinya kemudian dipadukan dengan pendapat siswa lain. Satu sisi mendewasakan pemikiran, menghormati pendapat orang lain, sadar bahwa ada pandapat di luar pendapatnya dan disisi lain siswa merasa dihargai sebagai individu yang memiliki potensi, kemampuan dan bakat bawaannya. Metode mujadalah lebih menekankan kepada pemberian dalil, argumentasi dan alasan yang kuat.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan mengenai surat An-Nahl  ayat 125 diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa prinsip-prinsip dakwah Islam tidaklah mewujudkan kekakuan, akan tetapi menunjukkan fleksibelitas yang tinggi. Ajakan dakwah tidak mengharuskan cepatnya keberhasilan dengan satu metode saja, melainkan dapat menggunankan bermacam-macam cara yang sesuai dengan kondisi dan situasi mad’u sebagai objek dakwah. Dalam hal ini kemampuan masing-masing da’i sebagai subjek dakwah dalam menentukan penggunaan metode dakwah amat berpengaruh bagi keberhasilan suatu aktivitas dakwah.

TT E L3 Metode Pendidikan Special (Metode Tanya Jawab) Q.S Al-Baqarah 189

  METODE PENDIDIKAN SPESIAL "METODE TANYA JAWAB"   Farkhatuttadzkiroh NIM. (2117065) Kelas : E   JURUSAN PEND...